Kung Fu
|
Spiritual
|
Feng Shui
|
Ruang Diskusi
|
|
Chi Kung
|
Meditasi |
Gwa Mia
|
|
|
Tao-4u.net > Klenteng
> Sejarah Klenteng Pada jaman dahulu biasanya Guru Spiritual Tao
senang tinggal di lereng gunung. Mungkin karena suasana yang tenang dan
nyaman serta udaranya yang menyegarkan. Selain itu juga untuk mempermudah
jika sewaktu-waktu berniat mendaki gunung untuk mencari tanaman obat. Yang pasti tujuannya bukan untuk mengasingkan
diri atau menghindari kehidupan duniawi. Karena landasan utama ajaran Tao
adalah justru menerjuni keduniawian dan bukannya meninggalkan keduniawian. Mengikuti
arus (kehidupan) tetapi tidak terbawa arus (kehidupan). Pada umumnya rumah tempat tinggal seorang
Guru Tao juga dilengkapi dengan altar Pemujaan kepada Thian Kung / Tuhan dan
juga Dewa-Dewi / Para Suci. Pada hari-hari tertentu kadang penduduk berkunjung
untuk sembahyang atau berobat. Dan hal ini makin lama menjadi suatu kebiasaan
bagi umat untuk bersembahyang pada hari-hari tertentu. Pada masa itu belum
terbentuk Klenteng seperti yang ada sekarang. Karena masyarakat awam merasa
‘tidak pantas’ dan belum memiliki ‘kemampuan’ untuk membuat suatu altar
pemujaan yang menghubungkan mereka dengan Tuhan dan Dewa-Dewi. Guru Tao biasanya sering berpergian, kadang
mendaki gunung untuk mencari tanaman obat. Biasanya Beliau menitipkan tempat
pemujaan tersebut agar dijaga oleh muridnya. Beliau juga menciptakan metode
“Ciam Si” yang berkenaan dengan kehidupan, kesehatan, jodoh, usaha dan lain
sebagainya. Tujuannya agar para penduduk bisa mohon petunjuk kepada Dewa-Dewi
secara langsung jika kebetulan Beliau sedang tidak ada ditempat. Pada perkembangan selanjutnya kadang tempat
sembahyang tersebut menjadi semakin besar dan berubah menjadi Klenteng atau
Biara. Itulah sebabnya kenapa kebanyakan Klenteng tua di Tiongkok terdapat di
gunung-gunung. Dan dari sinilah awal mula munculnya 2 golongan umat Tao yaitu
yang menjadi murid dari seorang Guru Tao / Tao She dan yang sekedar
sembahyang. (Baca:
Perkembangan Tao) Jaman terus berkembang, para murid Tao makin
tersebar. Sebagian dari mereka hidup bermasyarakat dan menyebarkan berbagai
seni, ilmu dan tatacara Tao ketengah-tengah masyarakat. Hingga pada akhirnya
kebiasaan mendirikan altar pemujaan juga mulai dilakukan oleh para penduduk.
Biasanya mereka minta seorang Tao She untuk meresmikan altar pemujaan
tersebut. Makin lama hal ini makin berkembang hingga akhirnya mulailah
berdiri Klenteng Keluarga dan Klenteng Umum. Inilah cikal bakal Klenteng yang
kini banyak tersebar dikalangan orang Tionghoa. Para penduduk adalah umat awam yang memiliki
pengetahuan keagamaan terbatas. Karena memang pada umumnya para umat awam
tidak mendalami ajaran Tao, mereka hanya sekedar bersembahyang untuk memohon
perlindungan dan kesalamatan. Karena itulah dalam perkembangannya selama
ribuan tahun banyak terjadi perubahan baik dalam ajaran ataupun tata cara
persembahyangan. Demikian seterusnya hal ini berlanjut dan berkembang dari
generasi ke generasi. Bahkan ketika agama Budha masuk ke Tiongkok, para umat
awam ini juga memasukkan Dewata Budha dan tata cara Budha kedalam tradisi
keagamaan mereka. (Baca: Sembahyang) Hingga pada masa dinasti Han seorang Guru Tao
yang bernama Chang Tao Ling (Zhang Dao Ling) membakukan sistim dengan membuat
Buku Tao, menurunkan Hu, Kiam dan In (Stempel). Maka terbentuklah Agama Tao (
Tao Ciao). Dan kemudian mulailah ajaran Klenteng disatukan dimana pada masa
itu didalamnya sudah terdapat unsur Tao, Khong Hu Cu dan Buddha. Kebiasaan mendirikan Klenteng dikalangan orang Tionghoa lambat laun jadi membudaya. Sehingga sewaktu mereka merantau keberbagai daerah, mereka bergotong royong mendirikan Klenteng yang berfungsi sebagai tempat sembahyang, tempat berkumpul dan kadang juga tempat tinggal sementara. Sebagai umat awam dengan pemahaman keagamaan yang sangat terbatas. Mereka hanya tahu bahwa agama mereka adalah agama nenek moyang yang terdiri dari 3 unsur agama yaitu Tao, Khonghucu dan Budha. Tatacara yang digunakan diciptakan oleh para pendirinya sesuai dengan pemahaman yang mereka miliki. Hal ini berlangsung turun temurun, sehingga tidak mengherankan jika lambat laun terjadi berbagai pergeseran. Hal inilah yang memicu terjadinya kesalah pahaman para sejarahwan atau ilmuwan yang ingin mempelajari ‘Agama Rakyat’ yang biasanya dipeluk oleh orang-orang Tionghoa. |
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
~~~~~~~~~~~~~~~~~~ [-4u ~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Tujuan
perubahan adalah untuk menyempurnakan cara dan haluannya.
Tetapi bukan
untuk mengubah tujuan dan azasnya.”
Copyright:
14 Juni 2003 / 15-05-2554 (Imlik)