Kung Fu
|
Spiritual
|
Feng Sui
|
Ruang Diskusi
|
|
Chi Kung
|
Meditasi |
Gwa Mia
|
|
|
Tao-4u.net > Sembahyang > Makna Pada dasarnya minimal ada 2 landasan utama tradisi sembahyang bagi umat Tao yaitu: 1. Sebagai
ungkapan rasa syukur. Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa pra sejarah pada masa pemerintahan Kaisar Purba Fu Xi. Biasanya upacara ini dilakukan dengan cara membuat altar di tempat terbuka atau di bukit. Merupakan upacara persembahan sebagai ungkapan rasa syukur karena itu biasanya menggunakan sesaji berupa hasil bumi dan hasil ternak para penduduk. Sesaji tersebut hanyalah perlambang dan pelengkap saja. Pada perkembangan selanjutnya tradisi ini semakin tertata dan dibakukan. Inilah cikal bakal terbentuknya tradisi penggunaan Sam Seng dalam berbagai persembahyangan. Tradisi inilah yang paling banyak dikenal dan diikuti oleh umat awam. Salah satu contoh upacara sembahyang sebagai ungkapan rasa syukur kepada Dewa/Tuhan yang hingga kini kita warisi adalah sembahyang Tahun Baru Imlek. 2. Sebagai penghormatan atau pemujaan yang sifatnya pribadi. Jika tradisi persembahyangan sebagai ungkapan rasa syukur cenderung bersifat kolektif dan menyerupai pesta rakyat. Maka persembahyangan dalam lingkup pemujaan dan penghormatan cenderung bersifat pribadi. Biasanya dilakukan terhadap sosok Dewa tertentu yang dianggap sebagai Junjungan, Leluhur, Pelindung ataupun Guru. Tradisi ini pada mulanya banyak dilakukan oleh para pelaku spiritual Tao, tetapi lambat laun menyebar dikalangan umat awam. (Baca: Sejarah Klenteng) Tradisi ini hingga kini juga masih dilakukan oleh praktisi Siu Tao dan juga umat awam yaitu dengan membuat altar pemujaan dirumah. Tradisi pembuatan altar leluhur juga berawal dari sini. Orang Tionghoa beranggapan kalau leluhur yang sudah meninggal sudah menjadi Dewa, maka layak untuk dipuja serta juga sebagai ungkapan tanda bakti. Dalam perkembangannya selama ribuan tahun lambat laun terjadi perubahan dan penataan dalam tatacara persembahyangan. Hingga kadang terjadi kesalah pahaman bahwa seolah-olah penggunaan Sam Seng adalah sebuah keharusan. Padahal sebenarnya tidaklah demikian ! Mohon dicermati bahwa pada dasarnya semua tradisi adalah ‘Buatan Manusia’. Penggunaan sesaji termasuk Sam Seng hanyalah pelangkap saja. Janganlah kita terbelenggu oleh hal-hal semacam ini. Bagi Tuhan / Dewa, menggunakan Sam Seng ataupun tidak, tidak ada bedanya! Karena Tuhan/Dewa sama sekali tidak ada kepentingan apapun terhadap sesaji tersebut. Dalam suatu upacara sembahyang yang terpenting adalah makna, penghayatan serta ketulusan hati kita. Karena itulah kaum Spiritual Tao dalam mengatur persembahyangan biasanya tidak terlalu merepotkan. Umumnya hanya menggunakan pelangkap berupa buah-buahan sekedar untuk membuat altar tampak indah dan sedap dipandang. |
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
Tata Cara |
|
|
|
|
|
|
|
Altar |
|
|
|
|
|
|
|
Patung Dewa |
|
|
|
|
|
|
|
Perlengkapan |
|
|
|
|
|
|
|
Tahun Baru |
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
||
|
|
~~~~~~~~~~~~~~~~~~ [-4u ~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Biarpun dunia
penuh dengan aneka ragam persoalan, namun kebenaran itu tetaplah satu.
Mungkin
terkadang kebenaran diselewengkan dan dikotori oleh debu-debu.
Tapi bisikan
hati dan batin yang asli akan tetap menjadi juri terakhir dan memvonis dengan
adil.”
Copyright:
14 Juni 2003 / 15-05-2554 (Imlik)