Home

Kung Fu

Spiritual

Feng Shui

Ruang Diskusi

Artikel

Chi Kung

Meditasi

Gwa Mia

Hubungi Kami

 

Tao-4u       

 

 

Dasar Pemikiran

 

Tao-4u.net > Sembahyang > Tanya Jawab 1

 

 

1.   Apakah kita wajib untuk bersembahayang kepada Tuhan / Dewa ?

Sembahyang bukan merupakan sebuah kewajiban. Kita boleh sembahyang dan boleh tidak, semua tergantung hati kita masing-masing. Kitalah yang punya kepentingan untuk sembahyang dan bukannya Dewa/Tuhan yang menginginkan kita untuk menyembahyangi Beliau.

 

2.   Bolehkan kita sembahyang untuk memohon rejeki, keselamatan, kesehatan & lainnya ?

Tentu saja boleh, kita boleh mohon apa saja kepada Tuhan / Dewa, itu adalah hak kita. Mengenai dikabulkan tidaknya permohonan kita itu adalah soal lain. Sama seperti saya boleh saja mengajukan permohonan minta uang kepada anda, tetapi apakah anda akan memberi uang kepada saya ataukah tidak itu sepenuhnya hak anda.

 

3.   Membuat altar pemujaan haruskah menggunakan patung atau gambar Dewa ?

Sebenarnya penggunaan patung atau gambar Dewa tidak merupakan keharusan. Hanya saja dengan adanya Patung dan Gambar Dewa pada altar akan menambah keindahan dan bisa membantu mengarahkan konsentrasi kita dalam sembahyang.

 

4.   Bagaimanakah cara memilih patung atau gambar Dewa ?

Pilihlah yang bagus, indah dan enak dilihat.

 

5.   Bagaimana cara mempersiapkan patung untuk altar sembahyang ?

Didalam Tao ada upacara khusus untuk meresmikan altar sembahyang yaitu Khai Kuang Shen Siang. Tujuannya untuk memohon berkat dan perlindungan Dewa bagi pemilik altar tersebut. Upacara ini bukan merupakan cara untuk ‘mengisi’ patung dengan Dewa.

Mohon dipahami bahwa Dewa tetaplah Dewa dan patung tetaplah patung. Sama seperti anda tetaplah anda dan foto anda tetaplah foto anda. Patung tidak perlu ‘diisi’, lagi pula mau ‘diisi’ dengan apa ? Apakah Dewa nya dimasukkan kedalam patung ? Cobalah berpikir secara nalar, untuk apa Dewa masuk kedalam patung ?

Kadang memang ada orang yang mengaku sebagai ‘Suhu’ dan mengaku bisa ‘mengisi’ patung. Tetapi cobalah kita pikir, jika Suhu tersebut benar-benar bisa ‘mengisi’ patung dengan Dewa, bukankah ini berarti Dewa nya kalah hebat dengan Suhu tersebut? Dan jika demikian untuk apa kita sembahyang kepada Dewa ? Bukankah lebih baik sembahyang kepada Suhu tersebut yang bisa mengendalikan Dewa ? Kadang ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk kepentingan dan ketenaran dirinya. Sebenarnya mereka hanya mencari nafkah untuk hidup, tidak usah terlalu kita pusingkan

 

6.   Bagaimana cara pengaturan persembahan pada altar sembahyang ?

Harus dipahami dulu bahwa pada dasarnya Dewa tidak memerlukan sesaji apapun. Anggapan bahwa Dewa makan sesaji adalah suatu kebodohan. Memang kadang buah yang telah dipakai sesaji agak layu. Tapi itu bukan karena dimakan Dewa, malainkan karena pengaruh panas dari lilin dan hio ataupun karena seharian berada ditempat terbuka atau panas. Demikian pula dengan kue yang dipakai sesaji otomatis akan akan jadi kering karena terkena udara luar.

Dalam sembahyang yang terpenting adalah ketulusan hati kita. Fungsi dari sesaji hanyalah untuk meramaikan suasana saja agar altar tidak terlihat hampa. Agar praktis gunakanlah buah-buahan seperti apel, jeruk dll, jadi tidak terbuang sia-sia karena sesudahnya bisa kita makan.

 

7.   Benarkah buah-buahan sesaji boleh kita makan, apakah tidak terkena kutukan Dewa ?

Inilah salah satu kebodohan yang menjadikan ajaran klenteng seolah-olah tahayul. Dewa adalah pengasih dan penyayang. Jika hanya karena mengambil sesaji lalu Dewa mengutuk kita maka dimana sifat Bijak dan Welas Asih Beliau ? Bagi Dewa sesaji tidak ada artinya dan boleh-boleh saja kita mengambil dan memakannya.

 

 

 

<<<Prev                                                                 Hal: 1, 2, 3, 4, 5                                                         Nex >>>

 

 

 

Makna

 

 

 

Tata Cara

 

 

 

Altar

 

 

 

Patung Dewa

 

 

 

Perlengkapan

 

 

 

Tahun Baru

 

Tanya Jawab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~ [-4u ~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Berawal dengan usaha (You Wei) untuk menemukan dan mengembangkan kealamiahan diri (Ce Ran) .

Kemudian mengendalikan dan mengarahkannya dengan kesadaran dan nalar yang tinggi ( Wu).

Hingga mencapai suatu kondisi perbuatan yang seolah-olah tidak berbuat (Wu Wei).

Untuk menuju ‘ Kosong yang Isi’ (Gong).

 

 

Copyright: 14 Juni 2003 / 15-05-2554 (Imlik)