Home

Kung Fu

Spiritual

Feng Shui

Ruang Diskusi

Artikel

Chi Kung

Meditasi

Gwa Mia

Hubungi Kami

 

Tao-4u       

 

 

Umum

 

Tao-4u.net > Tanya Jawab > Umum 1

 

 

1.   Yang disebut “Percaya pasti ada, Tak percaya pasti tidak ada” apakah benar ?

Seorang yang pikirannya sudah dewasa, tentu mengerti bahwa : Percaya’ tidak sama dengan ‘Ada; begitu pula Tidak Percaya’ tak sama dengan Nihil’ !

Percaya atau tak percaya adalah pandangan pribadi saja, tapi ada atau tak ada itu adalah fakta, maka jadilah soal tersebut tentu tak dapat disimpulkan dengan pandangan yang sempit ini.

 

2.   Membakar uang kertas / Kim Coa apakah ada gunanya ?

Banyak orang menganggap Dewa-dewi menggunakan uang, maka dengan membakar uang kertas untuk menunjukkan kerendahan / ketulusan hatinya. Ini sebetulnya, betul juga, tapi betulkah dewa pakai uang juga ? Tentu tidak. Dewa-dewi mana mau lagi barang-barang duniawi? Membakar beberapa lembar uang kertas untuknya, mengira / beranggapan akan diambil untuk digunakan, anggapan ini tidak luput jadi bahan tertawaan. Jadi membakar uang kertas itu tidak ada gunanya. Kalau hanya mengikuti adat meramaikan suasana, ya... sudahlah.

3.   Apakah yang dimaksud Ketahayulan ?

Yang dimaksud ialah tanpa berpikir, sembarang percaya apa saja yang aneh dan menyembah‑nyembah padanya.

 

4.   Percaya adanya Dewa / Shen Ming / Sin Beng apakah tahayul ?

Dewa / Shen Ming itu ada. Tidak ada kejodohan tidak bisa ketemu dengan Nya. Mempercayai Nya ‑ ada, tidak mempercayai Nya pun tetap ada. Maka percaya adanya Dewa ‑ Dewi itu tidak ketahayulan. Anda menyangkalnya, ia tetap ada seperti biasa.

Misalnya: anda memberitahu orang pedalaman tentang kapal terbang, dia tidak pernah melihatnya tentu tidak akan percaya, tetapi kapal terbang kan tetap ada ?!

Misal lagi: anda ceritakan tentang adanya TV, mereka belum pernah melihatnya, juga tidak akan percaya, tetapi TV pun tetap ada, hanya mereka belum pernah melihatnya dan dikarenakan pengertian / wawasan yang dangkal saja.

 

5.   Bagaimana pandangan manusia terhadap Dewa-Dewa ?

Dapat dibagi dalam tiga golongan, singkatnya sebagai berikut:

1.      Percaya kelewat batas: Takut‑takut; tak mencari bukti dan tak menggunakan pikiran mudah / cenderung ketahyulan dan ketakutan, mudah ditipu.

2.      Tak percaya sedikit pun:: Keras kepala ; tak mau mencari bukti ; terlalu cepat mengambil kesimpulan ; mudah timbul perasaan " Hanya ada saya tidak ada kamu "; menjadi kolot dan buta pengertian dalam Kedewaan.

3.      Di antara percaya dan tidak: llmiah; terus menggunakan pikiran; terus mempelajari; terus mencari bukti‑bukti; mudah mendapat jawaban yang tepat; dengan bijaksana dan masuk di akal untuk percaya sungguh ‑ sungguh seterusnya.

 

6.   Mengapa umat yang sama ‑ sama bersembahyang tapi ada yang jaya dan ada yang

      tidak jaya ?

Ini karena inti takdir mereka berbeda, misalnya si A takdirnya berpenghasilan tiap bulan 50 ribu, ia sembahyang, nasibnya berubah, jika sekali lipat maka tiap bulan menjadi 100 ribu. Si B, takdirnya berpenghasilan sebulan 5 ribu, ia juga sembahyang berubah juga nasibnya, jika sekali lipat, juga hanya 10 ribu, dua kali lipatpun masih hanya 15 ribu saja, kelihatan jauh berbeda bukan? Dari fakta‑fakta yang ada, kita dapat berpikir mendalam, maka jelaslah sudah sebab ‑ sebabnya, seandainya tidak sembahyang, tentu kesempatan merubahpun tak ada, namun soal merubah nasib ini, biasanya yang bersangkutan tak mengetahuinya, maka seakan ‑ akan seperti tak ada; tetapi dengan cara Tao Ying Suk dapat membuktikan adanya Dewa-dewa, maka jelaslah nasib itu dapat diubah‑NYA dalam keadaan yang tidak diketahui oleh yang bersangkutan.

 

7.   Ada sementara orang yang menganggap dirinya sebagai Suhu dan menganjurkan orang

      agar jangan belajar Tao / Siu Tao, apakah dapat dibenarkan ?

Ada sebagian orang menganggap dirinya sebagai Suhu, sebenarnya ia tidak mengerti apa‑apa. Mungkin hanya bisa sembahyang dan punya suatu pemujaan saja, ada, tamu datang ia dapat melayani dengan acara ini dan itu, pendidikan mereka kurang tinggi. Sebetulnya Tao itu apa, merekapun tak mengerti, apalagi mempelajari Dewa itu apa, mereka juga kurang jelas. Dalam hal tingkatan dibanding dengan seorang yang Siu Tao mereka jauh lebih rendah dan ketinggalan. Tentu juga mereka bicara secara ngawurpun ada, alasannya. sendiri, tetapi semua itu hanya karena pengetahuan dan pandangan mereka yang terlalu sempit belaka, tak perlu digubris. Jika seorang yang pemah Siu Tao masih bertanya Tao kepada mereka, tak beda dengan menurunkan derajat, seperti pelajar sekolah menengah menanyakan pelajarannya pada bocah taman kanan – kanak saja, coba pikir apakah tak akan kecewa?

 

8.   Kitab‑kitab suci apakah harus dibaca berturut‑turut puluhan ribu kali?

Kitab suci memang harus dimengerti pokok dan isinya, maka sering kali dibaca juga ada faedahnya. Tetapi bukannya harus berapa kalinya yang dipentingkan, yang penting adalah Mengerti dan Kemantapan Hati.

 

9.   Apakah artinya San Ciau Hek Ie (Tiga Agama bersatu) ? Mulai dari jaman apa?

Mulai dari jaman Dinasty Sung, dalam Klenteng‑klenteng sudah mulai sembahyang Dewa-dewa (Tao), Budha, Khong Hu Cu. Maka dari jaman itulah klenteng‑klenteng dinamakan tiga jadi satu, yaitu San Ciau Hek Ie. Sebetulnya yang disembah itu semuanya karena ‘Mendapatkan TAO’, maka semuanya disebut TAO juga boleh.

 

 

<<<Prev                                                                 Hal: 1, 2,                                                                   Nex >>>

 

 

 

TAO

 

       

 

Kehidupan

 

      

 

Dewa

 

      

 

Sembahyang

 

 

 

Siu Tao

 

      

 

Meditasi

 

Chi Kung

 

Seni & Ilmu

 

Pepatah Bijak

 

Daftar Pustaka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~ [-4u ~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Berawal dengan usaha (You Wei) untuk menemukan dan mengembangkan kealamiahan diri (Ce Ran) .

Kemudian mengendalikan dan mengarahkannya dengan kesadaran dan nalar yang tinggi ( Wu).

Hingga mencapai suatu kondisi perbuatan yang seolah-olah tidak berbuat (Wu Wei).

Untuk menuju ‘ Kosong yang Isi’ (Gong).

 

 

Copyright: 14 Juni 2003 / 15-05-2554 (Imlik)